Basmalah

Basmalah

Menu Bar

Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2018

Kuasa Kesahihan


Oleh : Tiorivaldi

Apa Itu Kesahihan ?
Menjadi pertanyaan yang sangat fundamental dalam suatu pertanyaan terkait kesahihan atau disebut juga kebenaran. Apakah jua dengan sesuatu hal yang secara inderawi saja sehingga kesahihan bisa diperoleh ? Atau kita memerlukan peran akal untuk menyatakan bahwa ini adalah sebuah kebenaran ? Atau perlu ditimbang kembali kebermanfaatan hal tersebut sehingga bisa dijustifikasi sebagai validitas tesis ?

Selasa, 03 Juli 2018

Peradaban Tik Tok


Oleh : Tiorivaldi
Manusia saat ini sedang mengalami pergeseran peradaban yang sangat signifikan. Zaman memang selalu berubah dari peradaban Yunani Kuno hingga peradaban Pos-modernisme atau bisa kita sebut dengan zaman Kontemporer. Zaman ini di dominasi oleh mereka yang disebut dengan generasi X, Y dan Z bahkan sudah muncul ditengah permukaan generasi-genarasi yang disebut generasi Alpha. Baru-baru ini lebih dikejutkan lagi dengan munculnya generasi teknologi yang cukup mengkhawatirkan, kita sebut saja untuk generasi ini yaitu generasi Tik Tok.

Selasa, 29 Mei 2018

RADIX

Oleh : Tiorivaldi

1. Apa itu radikalisme ?
Radikal itu diambil dari kata "radix" dalam bahasa latin yang artinya akar. Jadi dalam pengertiannya radikal adalah secara mendasar, karena akar merupakan hal yang paling fundamental dalam suatu tumbuhan. Berarti radikal tidaklah sepenuhnya berkonotasi negatif, dikarenakan setiap orang pastilah harus punya pikiran yang mendasar dalam kehidupannya berbangsa dan bernegara. Namun, seiring berjalannya waktu, radikal tersebut dapat diartikan juga sebagai gerakan yang menginginkan suatu bentuk perubahan secara mendasar dengan cara yang amat keras. Dalam konteks Indonesia, bisa kita sebut saja gerakan radikal yang menginginkan perubahan sistem pemerintahan, undang-undang dan peraturan yang paling mendasar dengan jalan yang tidak beretika. Namun, jika kita kembali kepada pengertian secara etimologis nya. Maka interpretasi dari kata radikal tidak ada keburukannya sama sekali

Rabu, 16 Mei 2018

Bulan Ramadhan sebagai Transformasi Sosial atau Kapitalisasi Pasar

Oleh : Tiorivaldi

Bulan Ramadhan adalah bulan paling dinanti bagi umat muslim. Karena pada bulan ini lah umat muslim dapat mendapatkan optimalisasi amalan-amalan kebaikan yang tidak diperoleh dari sebelas bulan yang lainnya. Umat muslim diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan ini sebagaimana firman-Nya :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Yang dimaksud dengan diwajibkan atas kamu berpuasa adalah puasa bulan Ramadhan sebagaimana hal tersebut akan dilanjutkan sampai ayat 185.
Jika yang diatas tadi kita masih membicarakan tentang bulan Ramadhan dalam korelasinya dengan hubungan vertikal up-down antara Allah subhanahu wa ta'ala kepada makhluk ciptaan-Nya (manusia). Maka yang akan menjadi pembahasan lebih dalam yang akan kita paparkan pada kali ini adalah korelasinya dengan hubungan horizantal antar manusia.

Rabu, 18 April 2018

Disharmoni Gedung Perkuliahan


Berbicara tentang kampus Universitas Tidar, tak pernah bosan kita melihat berbagai permasalahan-permasalahan yang ada. Kami pun tak tahu, apakah itu adalah faktor kesengajaan, kekeliruan atau hanya sekedar ingin menampilkan sebuah estetika yang imbasnya ada pihak yang tak berbahagia terhadap hal tersebut. Memang patut berkata jujur, memang ada nilai estetika ketika jendela gedung Fakultas Ekonomi di beberapa kelas di susun semacam itu, namun apalah gunanya sebuah estetika jika tidak di ikuti dengan fungsionalisasi yang sesuai. Hanya karena jendela yang di susun semacam itu, proses belajar mengajar menjadi kurang kondusif sehingga proses transfer ilmu jadi kurang optimal. Untuk permasalahan ini, minimal perlu adanya tirai untuk menutupi kontak langsung dengan sinar matahari
Tidak hanya hal itu saja, kejadian kurang menyenangkan juga terjadi di gedung Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi yang baru dibangun. Ketika hujan suara bising menghinggapi dan mengganggu proses belajar mengajar. Itu terjadi karena atap gedung nya berupa seng yang akan menimbulkan suara bising saat turunnya hujan. Hal ini bukan hanya mengganggu proses belajar mengajar tetapi bahkan proses transfer ilmu bisa terhenti sejenak dikarenakan suaranya yang melebihi intonasi suara mahasiswa dan dosen yang sedang berkomunikasi, mahasiswa yang berada di lantai 4 yang paling merasakannys. Secara akumulatif banyak yang merasakan, bahkan dosen pun ikut mengeluhkan hal tersebut. Kami tak tahu apakah ini juga faktor kesengajaan, kekeliruan atau estetika 
Maka sudah jelas hal tersebut merupakan sesuatu yang mesti di tanggapi dengan baik dan benar.

Beli roti di siang hari
Tak kelupaan membeli degan
Aduh kok panasnya hari ini
Oh gedungnya yang transparan

Bang Toyib suaranya fasih
Kerjaannya jalan-jalan
Nih gedung berisik amat sih
Eh tak taunya turun hujan

Jam 12 dipanggil majikan
Disuruh untuk membeli ikan
Sekian yang dapat disampaikan
Terimakasih kami ucapkan

Rabu, 04 April 2018

Puisi itu Multi tafsir

Oleh : Tiorivaldi

Puisi sangat berbeda dengan perkataan dan kalimat yang biasanya kita ucapkan sehari-hari. Karena puisi memiliki makna yang digunakan untuk menggiring pikiran manusia untuk masuk dalam keindahan kalimat tersebut. Jadi, ketika puisi tersebut hendak disampaikan oleh pembaca. Kemungkinan untuk terjadinya perbedaan persepsi dalam makna dan substansi maksud dari puisi yang disampaikan akan berbeda-beda. Akan aneh ketika kita hendak menjustifikasi suatu puisi sebagai suatu keburukan atau kita sebut saja bad moral hanya karena apa yang menjadi pandangan dan persepsi kita.
Saat ini sedang menjadi trending topic, sebuah puisi yang dibacakan oleh bu Sukmawati dikarenakan apa yang di sampaikan kepada pendengar mendapat alunan yang negatif. Kita sebut saja puisi yang berjudul "Ibu Indonesia" adalah puisi yang dibacakan oleh bu Sukmawati. Saya akan menggunakan dua kacamata dalam mencoba memberikan pandangan dalam puisi tersebut yaitu kacamata seni dan kacamata politik
Saat saya menempatkan diri sebagai pegiat atau pecinta seni, yang saya rasakan tidak ada kesalahan dalam puisi yang disampaikan oleh bu Sukmawati. Seperti yang saya sampaikan tadi bahwa puisi itu berbeda dengan kalimat biasa, maka tak bisa kita menempatkan kesalahan bu Sukmawati itu sama dengan kesalahan yang dilakukan oleh pak Ahok dulu. Karena ini penyampaian puisi dan pak Ahok dulu menyampaikannya dengan kalimat biasa yang jelas dan tanpa tafsir ganda. Kita tidak bisa membawa interpretasi kita sebagai suatu kebenaran. Saya akan mencoba mengulas lebih dalam terkait hal ini dengan menggunakan pendekatan hermeneutika yang merupakan salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Hermeneutika yang dibawa oleh Barat sebagai cara untuk memahami suatu teks mempunyai berbagai macam, ada yang menempatkan subjek pembaca teks dan ada yang mengabaikan subjek pembaca teks. Yang mengabaikan subjek pembaca teks, jadi dikembalikan kepada penulis yang menciptakan suatu tulisan tersebut. Sehingga ketika penulis mengatakan suatu hal terkait tulisan tersebut, maka hal tersebut sudah menjadi sebuah kebenaran. Dan ada juga hermeneutika yang mengadakan subjek pembaca teks sebagai penafsir, memberikan tempat kepada pembaca untuk menginterpretasikan apa yang ia baca. Tetapi sering kali untuk hal yang kedua ini dikarenakan penulis memang sudah tiada lagi. Seperti hermeneutika yang dilakukan untuk penafsiran kitab suci dan lain sebagainya. Maka pendekatan yang paling tepat menurut saya untuk digunakan pada kasus puisi "Ibu Indonesia" saat ini, kita kembalikan terlebih dahulu tafsirannya kepada penulis. Ketika penulis mengatakan makna yang berbeda dengan yang kita pikirkan, maka kita harus berlapang dada untuk menerimanya. Kecuali jika kita benar-benar bersikeras menjadikan model subjek pembaca teks sebagai penafsir yang lebih memiliki dominasi dibanding penulis teks. Tetapi apalah daya dan guna untuk meributkan hal tersebut
Lalu bagaimana jika saya menempatkan diri dalam mengamati kondisi politik saat ini ? Masa-masa saat ini adalah masa-masa nya untuk mencari citra baik dikarenakan semakin dekatnya pemilihan umum baik tingkat regional maupun nasional. Jadi, setiap halnya bisa saja berbau politik untuk mencari massa dalam memenangkan calon mereka sendiri. Coba bayangkan bu Sukmawati sudah minta ma'af dan umat islam di Indonesia masih bersikeras dengan pendiriannya untuk membawa kepada jalur hukum dan lain sebagainya seperti yang terjadi pada pak Ahok sebelumnya. Bukankah orang-orang akan semakin mengira tak ada toleransi dalam Islam yang berujung semakin berkurang massa yang akan menjadi pemenangan umat Islam ketika pemilihan presiden nanti ? Bahkan bu Sukmawati sampai menangis dalam permintaan ma'af, apakah tidak sedikitpun termuncul dalam benak kita drama tersebut untuk meraih simpati massa lebih banyak lagi ? Itu merupakan sesuatu yang cukup saya khawatirkan jika benar akan terjadi. Membangun citra positif itu sangat sulit dan menghancurkannya sangat mudah sekali, maka jangan sampai kita sebagai umat Islam dengan mudahnya tergiring dengan opini-opini publik yang berujung degradasi pemilih pada pihak umat Islam sendiri. Ingatlah kembali "puisi tidak sama dengan kata-kata belaka"
Saya rasa apa yang menjadi problematika yang terjadi saat ini, selalu lah media sebagai aktor utama nya. Hanya karena viral di media dan di blow up oleh massa, itu bisa menjadi kegelisahan bersama oleh seluruh manusia yang memperhatikan media. Kasus pak Ahok pun mestilah tidak terlepas dari hal tersebut.
Maka cobalah kembali untuk bersikap lebih moderat terhadap suatu keadaan. Gunakan intelektual bukan perasaan dalam setiap melaksanakan suatu hal. Jika kita sangat gampang dalam menampilkan penolakan kepada apapun yang dirasa menyinggung kita, itu bisa menjadi bumerang bagi kita sendiri suatu saat ini.
Tetap bergerak demi kejayaan Islam dan Indonesia

wallahu 'alam bishshawab

Sabtu, 17 Maret 2018

Eksistensi dalam Keterasingan

Oleh : Tiorivaldi

Setiap kata dan kalimat yang dengan bangganya mahasiswa menjelaskan dirinya sebagai "agent of change", "social control", "iron stock", dll. Namun, apakah semua itu hanya wacana dan pengakuan terhadap diri sendirinya saja ? Sejauh apakah kiprah mahasiswa sehingga dengan bangganya bisa meng-inputkan dirinya kedalam gelar semacam itu. Lagi-lagi kita mesti berbicara dengan jujur dan penuh hikmah dalam menjelaskan kebenaran dari pengungkapan gelar tersebut.

Minggu, 14 Januari 2018

Apa yang Mesti Kita Pimpin

 Oleh : Tiorivaldi

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dalam sebuah jama'ah yang biasa juga disebut organisasi, himpunan, komunitas, dan bentuk lainnya. Mestilah diantara semua itu memerlukan sebuah pemimpin. Pemimpin tersebut juga biasanya dalam sebuah jama'ah ada dua bentuk berbeda, yaitu dijadikan sebagai figuritas. Dalam artian setiap yang dilakukan oleh jama'ah tersebut dan apa yang dipandang oleh orang lain sangat bergantung dengan pemimpin tersebut. Dibentuk lainnya, pemimpin biasanya hanya dijadikan sebagai roda keberlangsungan jama'ah tersebut, karena setiap yang berada dalam jama'ah tersebut yang mempengaruhi setiap perlakuan jama'ah. Sebenarnya bukan hal tersebut yang hendak ingin saya sampaikan.

Kamis, 07 Desember 2017

Keseimbangan Energi dan Massa

Oleh : Tiorivaldi

Kehidupan di dunia saat ini bisa disamakan dengan hubungan energi dengan massa yang merupakan suatu ilmu fisika. Oleh Albert Einstein ditulis dalam rumus :
E = m x c^2
Dimana :
E = energi (J)
m = massa (kg)
c = kecepatan cahaya (m/s). Ini adalah konstanta yang berarti ketetapan yang tidak pernah berubah bernilai 299.792.458 m/s, kemudian dibulatkan menjadi 3 x 10^8 m/s

Kamis, 19 Oktober 2017

Menjadi Moderat Bersama KAMMI

Oleh : Tiorivaldi

Ada apa dengan KAMMI ? Sudah mencapai masa dua tahun saya berada di organisasi ini. Tetapi selama ini saya masih sering bertanya-tanya terkait sejatinya KAMMI itu seperti apa. Bukan berarti saya tidak mengetahui apa-apa tentang KAMMI. Namun banyak sekali teori-teori yang berbeda yang dikumpulkan menjadi satu hingga menjadi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Saya akan sedikit bercerita tentang “Mengapa akhirnya saya memilih KAMMI ?”

Rabu, 11 Oktober 2017

KAMMI Tidak Berkelas Sosial

Oleh : Tiorivaldi


Zaman memang selalu berkembang dengan seiring berjalannya waktu. Pemikiran-pemikiran ideologi pun mulai berkembang tanpa disadari, namun hal tersebut dapat diketahui dengan analisis perilaku sosial masyarakat. Ideologi yang dulunya dikatakan kapitalisme sekarang berubah menjadi neo-kapitalisme, liberalisme menjadi neo-liberalisme, bahkan mungkin neo-sosialisme sekarang tanpa disadari sudah mulai ada (atau memang saya yang kurang update ya, hehe). Lebih dari itu, pemikiran keagamaan pun mulai ikut di parsialkan oleh sebagian orang seperti islam formalistik, islam substantivik, islam transformatik, islam totalistik, islam realistik, ataupun Islam kiri yang digagas oleh Hassan Hanafi.

Kamis, 28 September 2017

Inilah Ijtihad yang Kita Pilih

Oleh : Tiorivaldi

Saudara-saudaraku yang insyaAllah selalu berada dalam penjagaan-Nya. Setelah banyaknya bercakap dan berinteraksi membahas DM1 Ki Hadjar Dewantoro ingin dimundurkan atau tetap pada tanggal tersebut. Sepertinya jalan terbaik yang kita peroleh adalah tetap pada pendirian awal. Memang jika kita berkaca kembali, sangat sulit untuk tetap mengambil langkah di waktu ini, dikarenakan berbenturan dengan bukan hanya satu saja. Tetapi bahkan secara ruang mahasiswa baru hanya tinggal menyisakan fakultas teknik dan fakultas fkip (kecuali pendidikan ipa). Tetapi karena jalan lainnya adalah berbenturan dengan organisasi seperjuangan, maka lebih baik jika dibenturkan untuk agenda yang berjalan disekitaran tanggal 29 september - 1 oktober.

Selasa, 19 September 2017

212 Bagiku dan Bagimu

Oleh : Tiorivaldi

Sudah sekian lama umat muslim tersisihkan karena kurang kuatnya bermain dalam bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Saat nya kita sama2 sadar atas segala tindakan yang kita rasa biasa, namun bisa jadi itu menjadi salah satu melemahnya keadaan umat muslim saat ini.

Kamis, 14 September 2017

Kritikmu Membangunku

Oleh : Tiorivaldi

Manusia merupakan suatu bentuk sampel kehidupan yang bercorak dalam segi sosial, budaya, sifat, perawakan, dan lain sebagainya. Ada seseorang yang disebut makhluk sosial dan ada juga yang anti sosial. Yang akan kita bahas dan kita analisis pada kali ini terkait sebuah kritikan dalam perilaku sosial.

Kamis, 07 September 2017

Sudilah Anda Ber-Itsar

Oleh : Tiorivaldi

Saya sangat berharap saudara-saudaraku semuslim menjadi orang yang itsar (mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan diri sendiri), jadi untuk kali ini sudilah sekiranya meninggalkan kegiatan perkuliahan di hari jum'at pada tanggal 8 september 2017 (bentuk kegiatan pribadi) demi mengikuti kegiatan aksi bela rohingya di hari tsb (bentuk kepentingan orang lain)

Minggu, 27 Agustus 2017

Ngurusin Indonesia atau Palestina ?

Oleh : Tiorivaldi

Pertanyaan yang bentuknya seperti ini dianggap logis, tetapi sebenarnya seperti dipaksakan atas kelogisan. Sepertinya semakin lama semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh masyarakat sejenis dengan judul yang saya buat diatas. Pernah juga sewaktu dulu ada seorang bapak-bapak yang bertanya dengan saya yang di saat itu sedang ikut serta dalam kegiatan galang dana "Beras untuk Afrika". Pertanyaannya kurang lebih seperti ini, "Galang dana untuk afrika ? Kenapa gak pikirin Indonesia dulu yang angka kemiskinan juga masih besar ?". Oh iya ya, kalau dipikir-pikir awalnya benar juga, tapi semakin lama saya tersadar bahwa dari awal kegiatan yang saya ikuti sewaktu itu tidak salah. Walaupun cerita tadi sudah berlangsung sejak lama, saya baru-baru ini diberikan sedikit kesadaran oleh Allah Subhanahu wata'ala dan dari berbagai input ilmu yang saya peroleh untuk dapat menjawab secara logis pertanyaan-pertanyaan yang mirip dengan hal ini.

Sabtu, 22 Juli 2017

Capaian Pribadi Seorang Aktivis Mahasiswa Muslim

Oleh : Tiorivaldi


Teruntuk kepada mahasiswa-mahasiswa muslim yang tergabung dalam organisasi-organisasi muslim di kampus maupun di luar kampus. Mungkin tidak senior untuk saya mengatakan dan menjelaskan berikut ini. Tetapi saya mencoba sebaik mungkin untuk memberikan pemahaman kepada yang belum mengetahui, bagi yang sudah paham menjadi semakin paham terkait capaian yang akan digapai oleh mahasiswa muslim yang tergabung kedalam organisasi kemusliman di dalam kampus maupun di luar kampus

Jumat, 23 Juni 2017

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
 

Saudara-saudaraku yang InsyaAllah selalu dirahmati Allah Subhanahu wata'ala, selesainya bulan ramadhan kali ini maka akan diiringi dengan masuknya bulan syawal. Ada orang yang mengucapkan Mohon ma'af lahir dan batin kepada keluarganya, saudaranya, teman-temannya, tetangganya, dan lain sebagainya. Dan biasanya di awal ditambah kalimat minal a'idin wal fa'izin dan beranggapan idul fitri (tanggal satu syawal) adalah hari saling mema'afkan. Namun, di sisi lain ada juga kaum muslimin yang mengucapkan  taqabballahu minna wa minkum dan tidak beranggapan idul fitri sebagai hari saling mema'afkan karena bagi mereka seorang muslim harus saling meminta ma'af dimanapun dan kapanpun walaupun tidak ada dosa kita perbuat kepada orang tersebut.
Pada intinya semuanya menganggap bahwa hari idul fitri adalah hari raya bagi kaum muslimin. Karena sebenarnya di kedua kalimat tersebut tidak pernah di lontarkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Jadi, mau kita mengucapkan minal a'idin wal fa'idzin ataupun taqabballahu minna wa minkum itu bukan menjadi keharusan, karena itu bukan bagian dari syariat. Hanya lah firman Allah Subhanahu wata'ala serta perbuatan dan perkataan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam saja yang bisa dikatakan sebagai bagian dari syariat Islam. Lantas kenapa kita sesama muslim saling menganggap yang mengucapkan ini yang salah, dan lainnya juga menganggap mengucapkan itu yang salah. Apakah karena maknanya tidak sesuai ? Bukankah makna dari keduanya itu baik, kalau kita mengartikannya dengan baik. Yang salah kalau kita menganggap salah satu diantara kalimat tersebut bagian dari syariat Islam
Minal a'idin wal fa'idzin yang berarti kami kembali dan meraih kemenangan itu perkataan yang baik jikalau kita memaknainya dengan sesuai. kami kembali (dalam keadaan suci) merupakan suatu kenikmatan dan kemuliaan bulan Ramadhan. Suci berarti bersih dari dosa-dosa, layaknya seorang bayi yang baru lahir. Hanya bedanya pahala nya juga tidak ikut disucikan. Menuju kemenangan, kemenangan apa ? kemenangan dari godaan-godaan hawa nafsu di bulan Ramadhan, makan dan minum, serta mengelola emosional yang kita miliki. Kalau memang itu makna yang kita harapkan, maka do'a ini tidak lah buruk. Maka hukumnya mubah
Taqabbalahu minna wa minkum yang berarti semoga Allah menerima amalku dan amal kalian. Do'a ini merupakan do'a yang diucapkan oleh para sahabat-sahabat Nabi ketika bertemu dan bersapa dengan sahabatnya di hari Idul Fitri. Jangan sampai kita mencela do'a yang satu ini, karena sama saja kita mencela sahabat-sahabat Nabi. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

_"Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya."_ (HR Bukhari no. 3397, Muslim no. 4610 dan 4611, At-Tirmidzi no. 3796, Abu Dawud no. 4039, Ibnu Majah no. 157, dan Ahmad no. 10657, 11092 dan 11180)
Maka marilah saudara-saudara kaum muslimin, jangan kita menjadi musuh hanya karena perkara yang sangat kecil. Selama perbedaan diantara kita adalah perbedaan fiqih, maka kewajiban kita adalah mencoba untuk menyampaikan. Tetapi selama ada dasar dari setiap perkataan dan perbuatan kita, jangan anggap diri kita lah yang terbaik. Apakah Rasulullah mencela salah satu dari kelompok yang berijtihad di saat perang bani Quraizhah ? Atau apakah Rasulullah pernah mencela ijtihad dari Abu Bakar Ash Siddiq dan Umar bin Khattab yang sering berlainan perndapat dalam suatu hal ?
Selama perbedaan pendapat dan keyakinan yang kita miliki belum sampai pada tahap ushul, maka beritahu saja. Mudah-mudahan apa yang terjadi di kalangan umat muslim saat ini bisa secepatnya teratasi, dan terciptanya jama'atul muslimin.
Saya (Tiorivaldi) dan segenap keluarga yang berada di Lampung mengucapkan,
Selamat hari raya idul Fitri 1438 H
_Taqabbalallahu minna wa minkum wa ja'alana minal a'idin wal fa'idizin_
_Barakallahu fiikum_

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh