Basmalah

Basmalah

Menu Bar

Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2017

Ntah Ku Mesti Sedih atau Bahagia

Oleh : Tiorivaldi

Ntah ku mesti sedih atau bahagia
Hidup di dunia yang penuh dengan logika


Menjadi karya-Nya yang dibebaskan tertawa
Bahkan bebas dalam melakukan apa saja

Minggu, 22 Januari 2017

Dari Aku untuk Sahabat

Oleh : Tiorivaldi

Wahai Sahabatku
Sungguh tak disungguh sebenarnya lah
Tak pantas diriku mengatakan seperti ini
Mengungkapkan kebenaran isi hatiku selama ini

Wahai Sahabatku
Ketahuilah, ada yang begitu hilang dalam diri kita masing-masing
Mengenai apa yang seharusnya kita bersamaai
Dan mengenati arti dari sahabat yang sebenarnya

Wahai Sahabatku
Apalah yang menjadi tujuan kebersamaan kita selama ini
Sebuh persahabatankah ?
Atau kepentingan ruh masing-masing

Wahai Sahabatku
Begitu mudah kalian memberi sebuah tugas kepada yang lainnya
Tapi dimana posisi kalian sat ia yang kalian mintai pertolongan,
Suatu saat meminta bantuan juga ?

Wahai Sahabatku
Janganlah samakan tugas dengan sebuah pertolongan
Sesungguhnya sebuah tugas yang kalian berikan adalah sebuah amanah
Sedangkan pertolongan kepada orang lain adalah bukti sebuah kebersamaan

Wahai Sahabatku
Mari prioritaskan lah kembali apa yang seharusnya kita dahulukan
Apakah kalian akan menyia-nyiakan memberi pertolongan hari ini
Dikarenakan sebuah kesibukan yang berjangkat waktu hingga pekan depan

Wahai Sahabatku
Alasanku masih bersama kalian selama ini bukanlah karena ikatan persahabatan
Melainkan karena aku cukup tau
Bersama kalianlah yang bisa membimbingku menggapai surga-Nya Allah

Ketahuilah Sahabatku
Janganlah kalian hanya mencariku saat membutuhkan tenagaku
Tetapi coba carilah juga aku
Saat kalian merindukan dan membutuhkan ruhku

Maka sungguh yang aku inginkan adalah ?
Alasanku bersama kalian dikemudian hari
Ada karena sebuah ikatan persahabatan sejati

Sabtu, 21 Januari 2017

Menunggu Tulang Rusukku

Oleh : Tiorivaldi

Wahai engkau tulang rusukku
Ukhti yang belum menjadi milikku
Pemenang dari memikat hatiku
Yang selalu berada di setiap do'aku

Bagaimana tubuh tanpa tulang rusuk
Akankah bisa tetap berdiri tegak
Ataukah akan rapuh dan bengkok
Bagaikan bangunan yang tak layak

Kumenunggu untuk menolak bermain
Sebuah hal yang tak kunjung dari hinaan
Dua insan berbeda dengan penuh candaan
Tapi larut dari keburukan

Maka ketahuilah bidadariku
Sungguh kenapa aku sanggup menunggumu
Karena aku pun sudah tahu
Bahwa ada Allah yang mengawasiku